Internasional Roaming Simpati Telkomsel

Setelah beberapa saat sulit menghubungi customer service (CS) Telkomsel (Caroline), saya bisa juga berbicara dengan salah satu operatornya. Menu Caroline Telkomsel ini menurut saya kurang pas susunan menu-menunya, masa saya mau berbicara dengan operator saja harus menunggu mesin menceritakan menu-menu customer service. Kalau menurut saya harusnya menu untuk berbicara dengan operator harus diletakan di awal, sesaat setelah konsumen diminta memilih bahasa yang akan digunakan.

Pertanyaan saya pagi ini adalah bagaimana cara mengaktifkan internasional roaming kartu Simpati saat saya berada di luar negeri. Penjelasan yang diberikan CS cukup gamblang, caranya cukup simpel yaitu :

Kirim SMS ke 6616 isinya :
IR <16 angka di belakang SIM card>

SMS ke nomor 6616 dikenakan tarif normal SMS Rp350,- Oh ya, yang penting diingat adalah untuk dapat menggunakan Telkomsel di luar negeri pulsa Simpati minimal harus Rp50000,-. Perincian tarif layanan Telkomsel bagi pelanggannya yang berada di luar negeri adalah :

  • Menelepon ke nomor Telkomsel di Indonesia tarifnya adalah Rp13100,-/menit
  • Menelepon ke operator di negara bersangkutan tarifnya berbeda-beda untuk tiap negara. Tadi saya hanya bertanya tarif panggilan saat saya berada di Jerman, besarnya Rp22300,-/menit
  • Mengirimkan SMS ke semua operator di Indonesia tarifnya adalah Rp4500,-/1 SMS (160 karakter).
  • Menerima panggilan dari Indonesia, kita akan dikenakan tarif roaming sebesar Rp16600,-/menit. Gelo ya mahal amat 🙂

Saat kita berada di luar negeri, kita pun bisa melakukan pengisian pulsa Simpati. Caranya sudah pernah dibahas oleh rekan saya di sini. Fitur internasional roaming ini cukup sekali saja diaktifkan; artinya jika kita sudah kembali ke Indonesia fitur ini akan otomatis mati dan saat kita kembali pergi meninggalkan Indonesia fitur ini otomatis aktif. Canggih ya teknologi GSM sekarang. Lintas negara euy….

Comic Life – The Story of Abah

Kemarin saya iseng-iseng mencoba menggunakan Comic Life.

Nih lihat hasil keisengan saya kemarin :-p :

Tokoh komik di atas namanya Eddy Sumaryadi, manajer yang benar-benar low profile (lihat saja gaya berpakaiannya). Eddy adalah saudara bapak kos saya, jadi sehari-hari saya bisa ketemu beliau dengan mudah. Awalnya gara-gara kamera baru saya, saya jadi gatel cari objek. Keseringan ketemu Eddy, jadilah banyak fotonya mampir di kamera saya. Makanya ketika kemarin saya mencoba-coba Comic Life, dia yang pas banget dijadikan tokoh komik :D.

Oh ya karena Eddy itu orang Sunda, makanya saya buat komiknya dalam bahasa Sunda; berikut terjemahannya :

  • Punten ah abdi teh Eddy Sumaryadi alias Abah = Permisi, nama saya Eddy Sumaryadi alias Abah
  • Urang teh aseli ti Bandung; ayeuna di Jakarta = Saya adalah orang Bandung asli, sekarang tinggal di Jakarta
  • Urang teh saban poe daharna pizza = saya tiap hari makannya pizza
  • Urang teh ayeuna kerja jadi manajer = sekarang saya kerja sebagai manajer
  • Miyabi oh miyabi = “lagi terpana liat klipnya miyabi” =))
  • Urang saban poe ngisep Dji Sam Soe = tiap hari saya merokok Dji Sam Soe
  • Urang teh resep pisan lalajo tipi sareng pilem = saya suka sekali menonton televisi dan menonton film
  • Urang teh resep pisan ngebut..tah eta mobilna = saya senang ngebut; lihat mobil yang sering saya pakai ngebut
  • Urang teh baheula jagoan di Bandung = saya tuh dulunya jagoan di Bandung
  • Geus ah crita urang, sayonara = sudah dulu cerita saya, sampai jumpa

Eddy (biasa saya panggil Abah) sekilas tampangnya biasa-biasa saja, tapi dia jago loh berbahasa Inggris dan sedikit berbahasa Jepang. Sehari-hari saya sering sekali ngobrol dengan beliau dalam bahasa Inggris. Memang kita gak boleh menilai orang dari luarnya saja, tampang boleh biasa-biasa tapi kemampuan mungkin kan luar biasa?

Thanks for you Sir for become my comic actor
;))

Pakar Edan

Sore in saya baca di Detik.com; lagi-lagi Roy Suryo bikin komentar negatif tentang blog dan para penulisnya.

Ah masa sih katanya blog itu seperti membuang sampah, dan para blogger itu tukang tipu? Perasaan saya bukan tukang tipu deh, jujur kok saya kalau menulis :-p

Edan nih “pakar telematika” favorit stasiun tv swasta ini….tersinggung nih saya sebagai blogger.

Ayam Osteoporosis

Hari ini saya balik lagi ke Icon+ PLN Gandul. Seperti biasa perjalanan memakan waktu 1 jam lebih, campur jalanan yang jelek membuat perjalanan terasa lama sekali. Kali ini saya datang untuk mengubah konfigurasi storage yang sudah dipasang minggu lalu. Dari kantor jam setengah 11, sampai di Icon sudah menjelang pukul 12 siang.

Harusnya kami makan siang dulu, tapi saya dan 2 rekan lain (Wira & Rahmat) masih sama-sama kenyang. Jadi kami kerja dulu, sekitar pukul 3 sore kami sudah selesai. Pulang lah kami dengan perut lapar. Tidak jauh dari gedung kompleks PLN ada warung makan yang menjual ayam penyet. Sebenarnya kami sudah lihat warung makan ini saat kami datang tadi, jadi sudah kami incar dari tadi 😀 Lihat foto depan warung makan tadi :



Kami bertiga plus Pak Djaini, driver kantor, makan siang di sana (makan siang kok hampir jam setengah 4 sore) Murah meriah juga makan di sana, satu porsi ayam goreng penyet cuma Rp6000,- plus nasi putih Rp2000,-. Nih lihat sebagian daftar menu yang dijual di sana :

Ayamnya benar-benar penyet, alias lunak sekali baik daging dan tulangnya. Mungkin pas kalau saya sebut “ayam goreng osteoporosis” (alias ayam tulang lunak) =))

Tentang Cue Stick

Apa sih cue stick? Cue stick gampangnya itu stik biliar, seperti ini contohnya :


Gambar di atas adalah gambar stik biliar yang saya gunakan saat ini. Yang atas adalah jump-break cue (J&J 2719) sementara yang bawah adalah playing cue (Joss 101). Tiap cue stick terdiri atas 2 bagian terpisah. Bagian bawah sebuah cue disebut sebagai butt sementara bagian atas disebut shaft. Pada gambar di atas yang disebut butt adalah yang berwarna hitam, sementara yang disebut shaft adalah yang berwarna krem. Butt dan shaft harus disambungkan tiap kali cue ingin digunakan (kecuali untuk menggebuk anjing, cukup gunakan butt saja =)) ).

Gambar di atas menunjukkan butt dan shaft dari Joss 101. Bagian yang ada tulisan Joss-nya adalah butt. Bagian yang berfungsi untuk menyambungkan butt dan shaft disebut joint. Joint berbentuk seperti paku ulir. Bagian yang menonjol (male part) berada di ujungnya butt, sementara bagian yang berlubang (female part) berada di ujung shaft. Ada beberapa macam joint yang digunakan para pembuat cue stick di dunia. Ada joint tipe konvensional, ada tipe unilock, ada tipe quick release. Joss 101 milik saya menggunakan joint konvensional. Berikut ini adalah gambar joint pada Joss 101 :



Sementara gambar di bawah ini adalah contoh joint tipe lain, ini adalah joint yang ada pada jump break cue J&J saya. Dengan joint seperti ini, butt dan shaft lebih cepat disambungkan.


Untuk melindungi joint pada saat tidak digunakan (disimpan) ada pelindung khusus yang disebut joint protector. Seperti ini bentuknya :

Pada bagian butt ada bagian yang dilapisi oleh lilitan linen, bagian ini disebut wrap (grip). Bagian ini diberi balutan linen supaya pemain bisa memegang cue dengan nyaman. Ada juga cue yang diberi wrap bukan dari lilitan linen tapi dari lapisan kulit. Beberapa jenis cue ada yang tidak memiliki wrap (jump break cue saya contohnya). Foto di bawah ini menunjukkan lapisan linen pada butt Joss 101.

Ujung butt dilengkapi dengan karet pelindung yang disebut sebagai bumper. Bumper ini berfungsi untuk memberi proteksi ketika pemain memegang cue stick sambil berdiri, bumper lah yang akan menjadi pelindung ketika cue menyentuh lantai. Foto berikut adalah bumper dari Joss 101.

Ok, tadi adalah cerita seputar bagian butt sebuah cue stick…bagian shaft juga memiliki beberapa bagian yang perlu Anda tahu. Shaft selain dilengkapi dengan joint (female part), memiliki juga bagian yang disebut ferrule dan tip. Pada gambar di samping, yang disebut sebagai ferrule adalah bagian yang berwarna putih. Bagian yang berwarna coklat dengan ujung biru pada gambar di samping, disebut sebagai tip. Warna biru itu adalah hasil gosokan tip dengan chalk.

Walaupun kecil tip adalah bagian penting dalam sebuah cue. Tip bersentuhan langsung dengan bola biliar. Bagian ini pegang peranan dalam menghasilkan efek-efek pukulan (draw shoot, follow shoot, dll). Tidaklah mengherankan jika tip yang bagus mahal harganya. Ada beberapa jenis tip menurut tingkat kekerasannya : soft, medium, hard, extra hard. Tip dengan jenis extra hard biasanya digunakan pada jump/break cue. Jump break cue saya bahkan menggunakan tip jenis fenolic (tipe ini tip dan ferrule terbuat dari bahan yang sama, tidak bisa dibedakan mana tip & mana ferrule).Tip dipasangkan pada ferrule dengan menggunakan lem khusus. Ujung tip biasanya dibentuk agak melingkar untuk membantu pemain menghasilkan pukulan-pukulan berefek.

Nah itu kurang lebih penjelasan saya tentang bagian-bagian sebuah cue atau stik biliar. Kedua cue saya disimpan dalam case J&J C22 C231 . Cue case ini dapat menyimpan 2 buah butt dan 3 buah shaft. Seperti ini bentuk cue case yang saya gunakan saat ini :

Ada satu lagi cue yang saya punya. Itu adalah cue pertama yang saya beli, mereknya Archer (entah tipe apa dan buatan mana). Cue ini saya beli bulan Oktober 2006, waktu itu saya masih baru sekali kenal biliar. Semangat belajar biliar makanya gaji pertama di kantor yang dulu saya belikan cue ini 😀 Lihat gambar cue pertama saya ini :

Ada yang berminat membeli cue lama saya ini? Kondisi cue masih bagus, hanya kotor saja shaft-nya. Sudah lama saya ingin menjualnya (lengkap dengan cue case-nya), bagi yang minat silakan hubungi 081395674416…..(mode iklan ON =)) )