Who Am I

Postingan iseng :

Click to view my Personality Profile page

Mencoba mengenali bagaimana sih kepribadian saya ;)) Iseng buka http://mypersonality.info lalu ikut tes ini. Nah itu hasilnya. Ternyata benar, saya memang seorang yang linguis, pemerhati bahasa. Saya bisa sebel sekali kalau dengar orang bicara aneh : “secara” lah, “analisa” lah… Nah tapi kok saya termasuk visual ya? Padahal saya kayanya lebih ke auditory deh. Tapi kinestetik juga sih : buktinya kalau belajar sesuatu saya harus coba dulu. Percuma baca manual, lebih baik langsung praktek…gitu gampangnya.

Bagus juga nih tes…sekitar 80 pertanyaan di tes ini. Anda perlu coba juga…rekomendasi dari saya 😀

Membaca di Jalan

Kalau saya sedang berpergian, saya biasanya menghabiskan waktu untuk membaca. Entah di dalam becak, bus, kereta api, pesawat saya dapat dipastikan membaca. Untuk membunuh waktu, saya lebih memilih membaca. Jadi sebelum pergi saya sudah persiapkan buku bacaan. Kalau sedang tidak punya buku baru, buku lama pun tidak menjadi masalah. Yang penting bisa menghabiskan waktu di perjalanan. Kalau di perjalanan sendirian dan melek terus kan menyebalkan juga, kalau bisa tidur sih ok lah.

Tadi siang saya pulang dari kantornya Toyota menuju kantor dengan naik BlueBird. Kebetulan di tas saya ada bukunya Kafi Kurnia, INTRIK. Saat menunggu taksi datang saya keluarkan bukunya. Lumayan kan menunggu sambil baca daripada bengong duduk di lobi. Biasanya kalau saya naik BlueBird, saya selalu ngobrol dengan pengemudinya. Tapi kali ini saya sedang asyik membaca. Jadi begitu naik dan menyebutkan alamat kantor, saya lanjut membaca.

Dari Sunter ke Sudirman tadi siang saya lewat jalan tol dalam kota. Beberapa meter sebelum masuk ke gedung kantor, saya simpan buku saya ke dalam tas. Pengemudi taksi siang tadi bertanya, Bapak sudah biasa ya membaca di mobil. Saya cukup heran sesaat dengan pertanyaan dia. Ya memang saya biasa membaca kalau di jalan Pak, jawab saya. Lalu Pak Maftuh – nama si pengemudi – bercerita (entah benar atau tidak) kalau jarang ada orang yang tahan membaca di mobil yang sedang berjalan. Katanya sudah lebih 10 tahun menjadi pengemudi taksi, jarang sekali ada tamunya yang tahan berlama-lama membaca di mobil. Selama perjalanan mobil pasti berguncang, kebanyakan orang tidak tahan/pusing kalau berlama-lama membaca. Wah bisa saja nih Si Bapak…jadi geer saya =)) He..he..he..katanya dia memperhatikan saya yang terus membaca sepanjang jalan. Empat puluh lima menit di jalan saya membaca terus.

Di antara bus, mobil, kereta api, dan pesawat; urutan pertama tempat yang paling nyaman untuk membaca adalah pesawat. Di pesawat ada meja untuk meletakan buku dan guncangannya lebih halus. Urutan kedua adalah kereta api. Di urutan ketiga adalah bus. Bus lebih nyaman daripada mobil biasa karena mungkin ukuran bannya yang lebih besar membuat guncangannya lebih tidak terasa dibandingkan dengan mobil biasa. Di dalam becak paling tidak nyaman, karena saya jadi tidak konsen tengok kanan tengok kiri =)) Tapi secara umum saya memang bisa membaca di mana saja. Asal sendirian, bukunya menarik, dan tidak ngantuk pasti enak membaca. Yang belum pernah saya coba adalah membaca saat naik ojek 😀 Entah bisa tidak ya membaca sambil naik ojek.

Bagaimana dengan Anda? Senang membaca selama perjalanan?

Tahun Baru, Nuansa Baru

Tahun baru, nuansa baru. Setelah beberapa hari ini saya mencari theme WordPress yang ‘pas’ di hati, saya hari ini memutuskan untuk menggunakan theme yang baru ini. Themesnya saya unduh di http://themes.wordpress.net, nama themesnya sade. Saya sengaja mencari theme yang simpel, sederhana, tanpa gambar di bagian judul.

Setelah utak-atik sedikit CSSnya, ini dia tampilan baru blog saya.

theme blog

Simpan screenshot-nya ah…siapa tahu nanti ingin ganti suasana lagi saya punya arsipnya.

Menulis Untuk Siapa?

Sore ini seorang teman protes kepada saya saat chat di Yahoo Messenger. Teman saya protes kenapa saya belakangan jadi selalu menulis di blog dengan tema komputer. Katanya dia tidak mengerti tulisan-tulisan saya yang tentang komputer (mungkin yang dia maksud adalah tulisan saya yang berbau Linux & Solaris). Saya bisa maklum kalau teman saya ini yang protes, maklum karena sebagai pedagang berlian dia jauh dari dunia IT apalagi Unix. Hmmm…protes yang membuat saya jadi berpikir : jadi kita menulis blog untuk siapa dan untuk apa? Untuk dibaca dan dinikmati orang lain? Atau untuk menyalurkan apa yang ada di pikiran kita? Atau untuk berbagi sedikit informasi dan pengetahuan dengan orang lain?

Banyak tulisan saya membahas tentang Unix, komputer, internet. Tulisan-tulisan sederhana memang, sesuai dengan tagline blog saya : Tulisan saya yang bodoh ini….alias tulisan versi bodoh-bodohan. Tapi saya tetap menulis karena saya yakin masih banyak orang yang memerlukan tulisan “tech for dummies” ini. Buktinya masih saja ada orang yang mampir ke blog saya gara-gara bertanya kepada Google, menanyakan hal-hal yang menurut saya “sederhana”. Saya tahu itu dari fitur Search Engine Terms yang ada di Dashboard-nya WordPress. Banyak hal sederhana yang ditanyakan orang di Google, misalnya : bagaimana menginstal Microsoft Office, bagaimana mengganti IP, bagaimana cara instal damn small linux.

Jadi kesimpulan saya sementara ini, masih banyak orang yang butuh informasi ringan, singkat, praktis tentang hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang simpel. Hal menginstal Microsoft Office mungkin bagi sebagian dari Anda adalah hal yang sepele kan? Mungkin bagi sebagian orang hal-hal tersebut adalah hal yang sepele tapi belum tentu sama halnya bagi orang yang benar-benar butuh informasi tersebut. Sebagai orang yang sering sekali memanfaatkan Google untuk bertanya, saya merasa perlu juga berbagi informasi/pengetahuan dengan sekian juta orang pengguna Internet (khususnya yang berbahasa Indonesia). Ah semoga Anda menangkap maksud saya ini. Tapi saya akan berusaha juga menulis hal-hal yang bisa dimengerti oleh banyak pihak.

Yang “di atas”

Mengapa orang sering menyebut Tuhan/Allah dengan sebutan “yang di atas”? Anda pasti pernah dengan beberapa contoh kalimat berikut ini :

  • Kita serahkan lah sama yang di atas, mudah-mudahan semuanya lancar
  • Ya itu kan sudah kehendak yang di atas
    (biasanya ini keluar kalau ada yang mati lalu orang diminta komentarnya)

Apa sih susahnya menyebut “Tuhan” atau “Allah” atau apalah sebutan yang sesuai dengan kepercayaan Anda? Salah satu teman pernah berseloroh (selorohan yang sinis & lucu) tentang hal ini. Tiap kali mendengar lawan bicaranya menggunakan istilah “yang di atas”, teman saya akan mendongak ke atas. Sambil mendongak, teman saya akan sok bego bertanya sendiri : “siapa yang di atas? cicak atau lampu neon?” =))

Sinis, konyol, tapi cukup mengena selorohan teman saya itu. Mengingatkan pada kita mengapa harus “malu”, segan, dan mengganti sebutan Tuhan dengan “yang di atas”. Apa takut dituduh terlalu religius?